Kemasan Produk

Posted on January 14th, 2009 in Speedy Blogging Competition by ontamesir

Di suatu malam tidak sengaja saya menyaksikan salah satu stasiun televisi nasional. Acara yang punya ngaran “Tawa Sutra XL” bisa membuat saya terpingkal - pingkal kala itu. Namun sayangnya karena ratingnya tinggi, sehingga iklan yang tampil juga banyak. Ya, sebagian besar iklan yang terpasang di acara tersebut adalah iklan dari CP alias content provider untuk layanan telepon seluler. Ada hal menarik yang saya perhatikan dalam sederetan iklan tersebut.

Anda tahu primbon kan ? Sebagai seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang memegang teguh adat dan budaya Jawa, buku primbon memang tidak terlepas dari kehidupan orang tua saya. Saya sering teringat ucapan almarhum kakek saya ketika saya membawa someone special ke rumah pasti ditanya tanggal lahir, weton dll. Setelah itu beliau memberi wejangan kepada kami apa yang akan terjadi seandainya kami menikah dikaitkan dengan tokoh pewayangan di dalam primbon tersebut. Almarhum kakek saya juga sering berpesan selalu berhati - hati dalam mencari “teman hidup”.

Di era sekarang ini dimana semakin banyak pergeseran nilai budaya akibat terpaan globalisasi melalui internet dan media mainstream lainnya, ternyata primbon juga mengalami perubahan dalam hal penyampaian. Kalo dulu orang bisa beli primbon dan menikmati isinya selagi bukunya masih ada, sekarang ini primbon bisa dinikmati melalui SMS. Sepertinya inilah yang dibidik para content provider dengan menyediakan “reg (spasi) primbon” untuk menghasilkan uang.

Terlepas mengenai masalah pro - kontra konten dari primbon ini, yang akan saya soroti adalah masalah pengemasan. Primbon dari dulu isinya ya itu - itu saja. Tetapi yang menarik disini adalah karena pengemasannya bagus maka diminati dan dapat menghasilkan profit. Saya juga masih ingat ketika EGM Divre III pak Anto menyampaikan bahwa sebelum friendster, facebook dll. merajalela, ternyata telkom melalui portal plasa.com di KSI-nya (Komunitas Sekolah Indonesia) sudah memulai hal itu. Tapi yang jadi pertanyaan kenapa pada akhirnya konten yang dikelola divisi multimedia tersebut tidak populer ?

Jadi, sebenarnya dalam bisnis konten itu tidak perlu terlalu banyak isi yang bersifat kebaruan. Terkadang dengan isi yang lawas-pun apabila dikemas dengan baik, maka akan lebih sukses. Akankah konsep ini akan dicontoh oleh Telkom dalam mengelola konten - kontennya ?

Post a comment